9 Elemen Penting Dalam Penulisan Daftar Pustaka

Sebuah referensi artikel pendidikan sangat dibutuhkan untuk membantu kelancaran tulisan, mendukung ide, dan membuktikan suatu kebenaran. Agar tidak dicap sebagai plagiat ketika mengutip pernyataan dari seseorang, maka harus ditulis dalam daftar pustaka.

Elemen-Elemen Penting dalam Penulisan Daftar Pustaka

Penulisan referensi tidak boleh sembarangan dan harus disesuaikan dengan format penulisan yang digunakan. Walaupun tiap format memiliki gaya tersendiri, namun secara umum terdapat beberapa elemen penting dalam sebuah referensi antara lain:

  1. Penulis

Elemen terpenting dari penulisan daftar pustaka adalah pencantuman nama penulis yang dirujuk. Dalam susunannya, nama penulis berada di bagian paling awal dan ditulis mulai dari nama belakangnya baru diikuti nama depan. Apabila penulis berjumlah 3 hingga 5 maka dapat ditulis semua dengan mencantumkan nama belakangnya saja atau hanya satu penulis diikuti ‘dkk.’.

  1. Judul tulisan

Dalam susunannya, judul tulisan/artikel yang dirujuk ditulis setelah nama pengarang. Biasanya, judul tulisan ditulis dengan cetak miring (italics) atau menggunakan tanda kutip. Contoh judul yang dicetak miring adalah referensi yang bersumber dari buku, sedangkan judul yang menggunakan tanda kutip adalah referensi yang bersumber dari website, jurnal, majalah atau koran.

  1. Judul karya

Elemen ini khusus untuk rujukan yang berasal dari kumpulan tulisan, buku antalogi, prosiding, dan jenis kumpulan atau koleksi tulisan lainnya. Selain menyebutkan judul salah satu tulisan yang dirujuk, Anda juga harus menyematkan judul dari kumpulan tulisan tersebut. Biasanya ditulis cetak miring dan diposisikan setelah judul tulisan spesifik yang dirujuk.

  1. Kontributor

Selain penulis utama, biasanya suatu karya juga didukung oleh seorang atau beberapa kontributor seperti penerjemah, ilustrator, dan editor yang turut andil sehingga harus diberi kredit. Sebagai contoh, apabila Anda menggunakan buku terjemahan sebagai referensi maka dalam daftar pustaka harus dicantumkan “Diterjemahkan oleh….”. Penulisannya ada yang harus menggunakan tutup kurung dan ada yang tidak.

  1. Edisi

Apabila sumber yang Anda gunakan merupakan bagian dari sederetan edisi, maka hal tersebut perlu dicantumkan. Sebagai contoh, sumber yang digunakan merupakan buku IPA Edisi 2 maka harus ditulis “Edisi Ketiga” setelah judul.

  1. Volume dan nomor

Biasanya volume dan nomor tersemat pada karya seperti jurnal dan buku yang terbit dalam beberapa volume. Apabila Anda menggunakannya sebagai sumber, maka baik volume dan nomor harus dicantumkan.

  1. Penerbit

Pihak yang menerbitkan sumber rujukan biasanya diposisikan di deretan akhir pada daftar pustaka. Apabila sumber yang digunakan melibatkan lebih dari satu pihak maka cukup menggunakan tanda miring sebagai pemisah antar penerbit.

  1. Tahun terbit

Apabila sumber yang digunakan sudah dicetak berulang kali, maka cantumkan tahun sesuai dengan cetakan yang Anda gunakan. Namun, apabila tidak terlalu yakin, maka sebaiknya cantumkan tahun cetakan pertama dari sumber tersebut.

  1. Lokasi terbit

Dalam penulisan referensi, sebaiknya mencantumkan lokasi penerbitan secara spesifik. Sebagai contoh, apabila sumber diterbitkan di Indonesia maka cantumkan nama kabupaten dan provinsi seperti “Sleman, Yogyakarta”.

Sembilan elemen penting tersebut tidak harus ditulis semua karena tergantung jenis sumber yang digunakan. Khusus untuk sumber elektronik, misalnya, perlu ditambahkan alamat website dan tanggal akses. Hal yang terpenting adalah tiap jenis sumber harus sesuai dengan aturan format yang Anda pilih.